Januari 18, 2013

Mengenal Tradisi Perkawinan Jawa (1/3)

Pendahuluan

Witing tresno jalaran soko kulino, artinya : Cinta tumbuh karena terbiasa. Cinta akan tumbuh dengan sendirinya, namun jika dua insan bersepakat maka cinta selayaknya dikukuhkan dalam sebuah perkawinan.

Dalam tradisi jawa, perkawinan adalah penyatuan dua keluarga besar. Proses penyatuan dua keluarga besar yang berbeda latarbelakang tentu tidak selalu berjalan mulus. Salah satu penyebab konflik terjadi jika salah satu keluarga besar masih mempertimbangkan apa yang disebut Bibit, Bebet, dan Bobot. Dalam tradisi jawa ketiga hal ini dipakai sebagai pertimbangan dalam menerima calon menantu.

  1. Bibit : Calon menantu berasal dari latar belakang keluarga yang baik.
  2. Bebet : Calon menantu (terutama pria), nantinya mampu menghidupi keluarga
  3. Bobot : Calon menantu berkualitas, dalam arti bermental baik dan berpendidikan baik.

Jika terjadi kesepakatan antara kedua keluarga besar, maka menurut kebiasaan akan dilangsungkan acara pinangan.
Pinangan
Pinangan atau lamaran akan dilakukan oleh pihak calon mempelai pria. Pada masa lalu, orang tua calon mempelai pria akan mengutus seseorang untuk meminangkan. Namun kini kebiasaan memakai seseorang sebagai utusan sudah banyak ditinggalkan dengan alasan kepraktisan. Biasanya orang tua calon mempelai pria akan datang sendiri untuk meminang. Jika pinangan diterima maka pembicaraan akan berlanjut dengan penentuan tanggal dan hari pelaksanaan perkawinan (Gethok dina), biasanya akan dicari hari baik (dengan memakai perhitungan kalender jawa). Dalam tradisi jawa, banyak upacara adat yang dilakukan berkaitan dengan berlangsungnya acara pernikahan. Untuk itu keberadaan seorang juru rias pengantin (pemaes) yang tepat menjadi penting, karena sang pemaes temanten inilah yang akan memberitahu bagaimana tata cara seluruh pelaksanaan upacara, lengkap dengan sesaji yang diperlukan.

Dalam tradisi adat Jawa, pihak calon mempelai wanita adalah pihak yang punya gawe (penyelenggara pernikahan) dan pihak calon mempelai pria hanya membantu. Bagaimana pelaksanaan upacara pernikahan, apakah semua urutan upacara adat dilakukan atau tidak, sederhana atau mewah, berapa banyak tamu yang diundang dan sebagainya. Semua itu menjadi keputusan keluarga calon mempelai wanita. Maka kedua pihak diharapkan lebih terbuka membicarakan anggaran yang mampu disediakan.
Pemasangan Tarub dan Bleketepe
Satu hari sebelum acara pernikahan, orang tua calon mempelai wanita akan memasang bleketepe dan tarub di depan pintu masuk halaman rumah. Akan dibuat gapura yang dihiasi tarub. Tarub terdiri dari berbagai tuwuhan (aneka tanaman) yang secara simbolis mempunyai arti.

Tuwuhan yang dipasang pada sisi kiri dan kanan gapura yaitu pohon pisang yang telah berbuah matang. Pohon pisang dipandang sebagai tanaman yang dapat tumbuh baik dimanapun, maka pemakaian pohon pisang sebagai simbol calon pengantin diharapkan akan menjadi keluarga baru yang bahagia, sejahtera dan rukun dengan lingkungan masyarakat sekitarnya.

Sepasang tebu wulung (tebu berwarna merah) sebagai simbol kemantapan pasangan baru ini untuk membina keluarga mereka.

Cengkir gading (kelapa gading) sebagai simbol kesungguhan dan kuatnya niat kedua calon mempelai untuk terikat dalam kehidupan bersama yang saling mencinta.
Aneka dedaunan seperti beringin, mojokoro, alang-alang, dadap srep, sebagai simbol harapan agar kedua calon mempelai ini hidup dan tumbuh dalam keluarga yang selalu selamat dan sejahtera.

Sedangkan pemasangan Bleketepe yang terbuat dari anyaman daun kelapa dimaksukan untuk mengusir segala gangguan dan roh jahat dan menjadi pertanda bahwa dirumah ini akan dilakukan upacara pernikahan.
Sesajen
Dalam tradisi jawa sesajen banyak digunakan untuk berbagai acara adat. Begitu juga dengan acara pernikahan. Sesajen biasanya akan disiapakan sebelum pemasangan tarub dan bekletepe. Sesajen yang ada berupa nasi tumpeng, berbagai macam buah, berbagai lauk pauk, kue-kue, minuman, bunga, jamu, daging kerbau, gula kelapa dan sebuah lentera. Sesajen ini adalah simbol permohonan berkah dari Tuhan dan restu dari para leluhur. Selain juga sebagai media menolak godaan mahluk halus yang jahat. Sesajen biasanya ditempatkan dibeberapa tempat seperti dapur, kamar mandi, pintu depan, dibawah tarub, jalan yang dekat dengan rumah dll.

Bersambung ke tulisan Tradisi Perkawinan Jawa 2

0 comments:

Poskan Komentar

 
Support: Contact us | Facebook | Sitemap
Copyright © 2011. Jogja Wedding House - All Rights Reserved

Proudly powered by Blogger